SURVAI GAJI MIGAS
Kendati banyak perusahaan melakukan adjustment, kenaikan gaji 2007 tak
setinggi kenaikan inflasi. Bagaimana gambarannya tahun ini? Sektor apa
saja yang menjanjikan?
Sebagai Manajer Production Planning Control PT Sharp Indonesia, Sukiatno
merasa hidupnya sudah berkecukupan. Menurut pria berusia 48 tahun ini,
gaji yang diterimanya setiap bulan bisa dikatakan bagus, bahkan lebih
baik dibandingkan dengan rekan-rekannya di posisi yang sama di
perusahaan elektronik lain. ?Saya kira, posisi Sharp yang terbaik di
industri elektronik,? ujarnya bangga. Sayang, ia enggan mengungkapkan
besaran nilainya. Namun, dari hasil wawancara SWA ke sejumlah head
hunter mengenai kisaran gaji berdasarkan kelompok jabatan, rata-rata
gaji manajer senior di industri elektronik berkisar Rp 7-8 juta/bulan.
Besar kemungkinan, gaji Sukiatno lebih besar dari itu mengingat
pengalamannya yang sudah belasan tahun di perusahaan yang sama.
Di samping gaji, Sukiatno juga memperoleh fasilitas kendaraan. Untuk
level manajer seperti dirinya, perusahaan memberi mobil sekelas Vios
atau Baleno. Sementara di tempat lain, pada posisi yang sama, karyawan
tidak selalu mengantongi tunjangan mobil. Kalaupun ada, menurutnya,
paling tinggi diberikan untuk sekelas Avanza. ?Itu pun mungkin hanya
beberapa orang.?
Sukiatno pun masih menikmati benefit lain. Selain mobil dan tunjangan
hari raya (THR), ia memperoleh pula bonus reguler dan tambahan yang
besarnya dihitung berdasarkan performa. Bonus tersebut diberikan 6 bulan
sekali. ?Kalau ditotal, dalam setahun minimum kami mendapatkan 16 kali
gaji,? ungkapnya. Demikian pula untuk urusan jenjang karir, diakuinya,
Sharp memberi kesempatan seluas-luasnya kepada karyawan. Terlebih, ia
menilai, iklim perusahaan dibangun agar kompetitif dan transparan. Atas
dasar itulah, Sukiatno bertahan di Sharp dalam kurun yang panjang.
Menyinggung soal kebijakan remunerasi yang diterapkan Sharp selama ini,
Manajer Senior Pengembangan SDM (HRD) PT Sharp Electronics Indonesia,
Asrial, mengakui, perusahaannya selalu mengacu pada tren pasar. Sebisa
mungkin Sharp berupaya agar remunerasi yang diberikan kepada karyawan
berada di atas pasar. Dalam hal ini, perusahaan elektronik asal Jepang
ini tidak menggunakan tenaga konsultan untuk mendapatkan data-data gaji
di industri yang sama setiap tahun. Namun, ?Kami terus meng-update
melalui survei gaji yang dilakukan beberapa lembaga setiap tahun,?
katanya lugas.
Ads: lnfo artikel karier dan lowongan pekerjaan bisa dilihat pada klikkarir.com
Yang menarik, Asrial menuturkan, di industri elektronik agak unik.
Jalinan komunikasi antarprodusen elektronik di Indonesia berjalan
harmonis, paling tidak di antara sesama manajer HRD. Tiga kali dalam
setahun, manajer HRD dari semua produsen elektronik di Indonesia
berkumpul membahas salary di masing-masing perusahaan. Bahkan, ?Bukan
hanya soal gaji dan remunerasi yang dibahas pada ajang pertemuan para
(manajer) HRD tersebut, tetapi juga tunjangan perjalanan dinas dan
lain-lain,? ujarnya. Sejauh ini, ia bersyukur bahwa posisi Sharp –
terkait dengan gaji dan benefit lainnya — untuk level manajer ke atas
termasuk yang tinggi di antara perusahaan sejenis.
Remunerasi di PT Toyota-Astra Motor (TAM), sebagaimana diungkapkan
Achmad Rizal, juga bisa dikatakan menarik. Selain memperoleh 12 bulan
gaji, karyawan pun menerima THR yang besarnya dua kali gaji. Selain itu,
masih ada bonus yang diberikan berdasarkan kinerja karyawan bersangkutan
dan kinerja perusahaan. ?Besarnya bonus rata-rata 6-12 kali gaji pokok,?
tutur Rizal yang kini menikmati take home pay sekitar Rp 20 juta/bulan.
Perusahaan menyediakan pula benefit berupa program kepemilikan mobil,
yang diberikan mulai dari level 8 atau setara asisten manajer. Di level
ini, tunjangan kendaraan diberikan mulai dari Avanza. Di level yang
lebih tinggi, misalnya job sebagai asisten GM, TAM memberikan mobil Corolla Altis.
Sementara untuk direksi (level 10), perusahaan menyediakan mobil Lexus.
Dibandingkan dengan perusahaan lain di industri yang sama, Rizal
mengklaim, remunerasi yang diberikan TAM kepada karyawan lebih bagus.
Tiap tahun karyawan juga dipastikan menikmati kenaikan gaji. Hanya saja,
kenaikan gaji di TAM bervariasi, diukur berdasarkan performa
masing-masing orang. Penggolongannya mulai dari grade A dengan kenaikan
gaji 12%-15% gaji pokok, dan yang terendah grade D, kenaikan gajinya
setara inflasi atau 7%-8%.
Berbicara tentang sistem penggajian di bawah Grup Astra, Chief Corporate
HRD PT Astra International F.X. Sri Martono memaparkan, sejatinya Astra
harus bisa menjawab kebutuhan mendasar karyawannya, sekaligus menarik
minat calon karyawan dan memotivasi orang-orang terbaik di perusahaan.
?Kami yakin, gaji harus berpedoman pada harga pasar dan cukup bersaing,?
ungkapnya. Demi memenuhi tujuan tersebut, secara teratur perusahaan
otomotif terbesar di Indonesia ini melakukan salary survey dalam lingkup
industri sejenis ataupun lintas industri sesuai dengan kelompok jabatan
dan struktur golongan atau kepangkatan yang ada. Tak mengherankan,
kebijakan remunerasi di Astra pun selalu dievaluasi dan disesuaikan
dengan perkembangan pasar serta peraturan ketenagakerjaan yang berlaku.
Di luar financial rewards, Astra juga memberi penghargaan yang sifatnya
non financial. Tujuannya, untuk lebih memotivasi karyawan meningkatkan
kinerja dan mencapai produktivitas tinggi, membangun kerja sama kelompok
dan saling menghargai satu sama lain. Selain gaji, yang tak kalah
penting dikembangkan, menurut Martono, adalah kesempatan maju dan
berkembang bagi setiap karyawan. ?Di sini (Astra) adalah tempat bagi
mereka yang kreatif, inovatif dan mau maju,? katanya.
Direktur Pengelola JAC Indonesia Mariko Yoshihara mengakui, industri
seperti otomotif, telekomunikasi, minyak dan gas (migas) dan teknologi
informasi (TI), memberi kenaikan gaji lebih tinggi daripada sektor lain
dengan kisaran 11%-12%. ?Industrinya memang sedang booming,? ujarnya
mengomentari. Di industri lain, misalnya tekstil, gaji cenderung tidak
banyak bergerak. Hal ini bisa dimaklumi, mengingat hanya sebagian kecil
perusahaan tekstil yang mampu bertahan melawan produk tekstil asal Cina.
Mariko menandaskan, perbedaan gaji tidak hanya dipengaruhi tren
industri. Kesenjangan dalam hal gaji bisa saja terjadi kendati
industrinya sama. Hal itu tergantung pada kinerja perusahaan yang
bersangkutan. Perusahaan yang sudah go public dinilainya berani memberi
gaji lebih tinggi ketimbang perusahaan keluarga. Demikian pula dengan
tunjangan lain-lain, besar-kecilnya tergantung pada skala perusahaan.
Secara umum Mariko memaparkan, struktur penggajian di perusahaan terdiri
atas 75% base salary dan 25% benefit.
Perbedaan standar gaji antarindustri, di mata Konsultan Senior ESDM
(Executive Search & Management) Jody Rasjidgandha, memang selalu ada.
Dan, biasanya untuk industri yang sedang booming, ada kompensasi yang
menggiurkan. Sementara industri yang sudah stagnan, Jody melihat, tidak
menawarkan benefit yang menarik. Menyinggung besaran gaji dan benefit
untuk berbagai level, ia menandaskan, hal tersebut tergantung pada kelas
perusahaannya. Kendati demikian, ia memberi gambaran, untuk level CEO
rata-rata gajinya ratusan juta rupiah. Akan tetapi, ?Angka ini masih
bersifat relatif. Ada juga CEO yang digaji kurang dari itu,? ungkapnya.
?Semakin bagus dan besar perusahaannya, semakin tinggi pula gaji yang
ditawarkan.?
Ads: artikel tentang lowongan kerja dan bursa kerja terbaru bisa dilihat pada klikkarir.com
Sementara itu, benefit yang diperoleh di bawah level CEO biasanya tidak
jauh berbeda. Sebagai contoh, gaji seorang manajer menengah Rp 20-30
juta. Namun, yang lebih tinggi atau lebih kecil dari nilai itu juga ada.
Untuk perusahaan kecil, Jody mencontohkan, gaji manajer menengah hanya
sekitar Rp 8 juta.
Oleh : Firdanianty
swa.co.id
setinggi kenaikan inflasi. Bagaimana gambarannya tahun ini? Sektor apa
saja yang menjanjikan?
Sebagai Manajer Production Planning Control PT Sharp Indonesia, Sukiatno
merasa hidupnya sudah berkecukupan. Menurut pria berusia 48 tahun ini,
gaji yang diterimanya setiap bulan bisa dikatakan bagus, bahkan lebih
baik dibandingkan dengan rekan-rekannya di posisi yang sama di
perusahaan elektronik lain. ?Saya kira, posisi Sharp yang terbaik di
industri elektronik,? ujarnya bangga. Sayang, ia enggan mengungkapkan
besaran nilainya. Namun, dari hasil wawancara SWA ke sejumlah head
hunter mengenai kisaran gaji berdasarkan kelompok jabatan, rata-rata
gaji manajer senior di industri elektronik berkisar Rp 7-8 juta/bulan.
Besar kemungkinan, gaji Sukiatno lebih besar dari itu mengingat
pengalamannya yang sudah belasan tahun di perusahaan yang sama.
Di samping gaji, Sukiatno juga memperoleh fasilitas kendaraan. Untuk
level manajer seperti dirinya, perusahaan memberi mobil sekelas Vios
atau Baleno. Sementara di tempat lain, pada posisi yang sama, karyawan
tidak selalu mengantongi tunjangan mobil. Kalaupun ada, menurutnya,
paling tinggi diberikan untuk sekelas Avanza. ?Itu pun mungkin hanya
beberapa orang.?
Sukiatno pun masih menikmati benefit lain. Selain mobil dan tunjangan
hari raya (THR), ia memperoleh pula bonus reguler dan tambahan yang
besarnya dihitung berdasarkan performa. Bonus tersebut diberikan 6 bulan
sekali. ?Kalau ditotal, dalam setahun minimum kami mendapatkan 16 kali
gaji,? ungkapnya. Demikian pula untuk urusan jenjang karir, diakuinya,
Sharp memberi kesempatan seluas-luasnya kepada karyawan. Terlebih, ia
menilai, iklim perusahaan dibangun agar kompetitif dan transparan. Atas
dasar itulah, Sukiatno bertahan di Sharp dalam kurun yang panjang.
Menyinggung soal kebijakan remunerasi yang diterapkan Sharp selama ini,
Manajer Senior Pengembangan SDM (HRD) PT Sharp Electronics Indonesia,
Asrial, mengakui, perusahaannya selalu mengacu pada tren pasar. Sebisa
mungkin Sharp berupaya agar remunerasi yang diberikan kepada karyawan
berada di atas pasar. Dalam hal ini, perusahaan elektronik asal Jepang
ini tidak menggunakan tenaga konsultan untuk mendapatkan data-data gaji
di industri yang sama setiap tahun. Namun, ?Kami terus meng-update
melalui survei gaji yang dilakukan beberapa lembaga setiap tahun,?
katanya lugas.
Ads: lnfo artikel karier dan lowongan pekerjaan bisa dilihat pada klikkarir.com
Yang menarik, Asrial menuturkan, di industri elektronik agak unik.
Jalinan komunikasi antarprodusen elektronik di Indonesia berjalan
harmonis, paling tidak di antara sesama manajer HRD. Tiga kali dalam
setahun, manajer HRD dari semua produsen elektronik di Indonesia
berkumpul membahas salary di masing-masing perusahaan. Bahkan, ?Bukan
hanya soal gaji dan remunerasi yang dibahas pada ajang pertemuan para
(manajer) HRD tersebut, tetapi juga tunjangan perjalanan dinas dan
lain-lain,? ujarnya. Sejauh ini, ia bersyukur bahwa posisi Sharp –
terkait dengan gaji dan benefit lainnya — untuk level manajer ke atas
termasuk yang tinggi di antara perusahaan sejenis.
Remunerasi di PT Toyota-Astra Motor (TAM), sebagaimana diungkapkan
Achmad Rizal, juga bisa dikatakan menarik. Selain memperoleh 12 bulan
gaji, karyawan pun menerima THR yang besarnya dua kali gaji. Selain itu,
masih ada bonus yang diberikan berdasarkan kinerja karyawan bersangkutan
dan kinerja perusahaan. ?Besarnya bonus rata-rata 6-12 kali gaji pokok,?
tutur Rizal yang kini menikmati take home pay sekitar Rp 20 juta/bulan.
Perusahaan menyediakan pula benefit berupa program kepemilikan mobil,
yang diberikan mulai dari level 8 atau setara asisten manajer. Di level
ini, tunjangan kendaraan diberikan mulai dari Avanza. Di level yang
lebih tinggi, misalnya job sebagai asisten GM, TAM memberikan mobil Corolla Altis.
Sementara untuk direksi (level 10), perusahaan menyediakan mobil Lexus.
Dibandingkan dengan perusahaan lain di industri yang sama, Rizal
mengklaim, remunerasi yang diberikan TAM kepada karyawan lebih bagus.
Tiap tahun karyawan juga dipastikan menikmati kenaikan gaji. Hanya saja,
kenaikan gaji di TAM bervariasi, diukur berdasarkan performa
masing-masing orang. Penggolongannya mulai dari grade A dengan kenaikan
gaji 12%-15% gaji pokok, dan yang terendah grade D, kenaikan gajinya
setara inflasi atau 7%-8%.
Berbicara tentang sistem penggajian di bawah Grup Astra, Chief Corporate
HRD PT Astra International F.X. Sri Martono memaparkan, sejatinya Astra
harus bisa menjawab kebutuhan mendasar karyawannya, sekaligus menarik
minat calon karyawan dan memotivasi orang-orang terbaik di perusahaan.
?Kami yakin, gaji harus berpedoman pada harga pasar dan cukup bersaing,?
ungkapnya. Demi memenuhi tujuan tersebut, secara teratur perusahaan
otomotif terbesar di Indonesia ini melakukan salary survey dalam lingkup
industri sejenis ataupun lintas industri sesuai dengan kelompok jabatan
dan struktur golongan atau kepangkatan yang ada. Tak mengherankan,
kebijakan remunerasi di Astra pun selalu dievaluasi dan disesuaikan
dengan perkembangan pasar serta peraturan ketenagakerjaan yang berlaku.
Di luar financial rewards, Astra juga memberi penghargaan yang sifatnya
non financial. Tujuannya, untuk lebih memotivasi karyawan meningkatkan
kinerja dan mencapai produktivitas tinggi, membangun kerja sama kelompok
dan saling menghargai satu sama lain. Selain gaji, yang tak kalah
penting dikembangkan, menurut Martono, adalah kesempatan maju dan
berkembang bagi setiap karyawan. ?Di sini (Astra) adalah tempat bagi
mereka yang kreatif, inovatif dan mau maju,? katanya.
Direktur Pengelola JAC Indonesia Mariko Yoshihara mengakui, industri
seperti otomotif, telekomunikasi, minyak dan gas (migas) dan teknologi
informasi (TI), memberi kenaikan gaji lebih tinggi daripada sektor lain
dengan kisaran 11%-12%. ?Industrinya memang sedang booming,? ujarnya
mengomentari. Di industri lain, misalnya tekstil, gaji cenderung tidak
banyak bergerak. Hal ini bisa dimaklumi, mengingat hanya sebagian kecil
perusahaan tekstil yang mampu bertahan melawan produk tekstil asal Cina.
Mariko menandaskan, perbedaan gaji tidak hanya dipengaruhi tren
industri. Kesenjangan dalam hal gaji bisa saja terjadi kendati
industrinya sama. Hal itu tergantung pada kinerja perusahaan yang
bersangkutan. Perusahaan yang sudah go public dinilainya berani memberi
gaji lebih tinggi ketimbang perusahaan keluarga. Demikian pula dengan
tunjangan lain-lain, besar-kecilnya tergantung pada skala perusahaan.
Secara umum Mariko memaparkan, struktur penggajian di perusahaan terdiri
atas 75% base salary dan 25% benefit.
Perbedaan standar gaji antarindustri, di mata Konsultan Senior ESDM
(Executive Search & Management) Jody Rasjidgandha, memang selalu ada.
Dan, biasanya untuk industri yang sedang booming, ada kompensasi yang
menggiurkan. Sementara industri yang sudah stagnan, Jody melihat, tidak
menawarkan benefit yang menarik. Menyinggung besaran gaji dan benefit
untuk berbagai level, ia menandaskan, hal tersebut tergantung pada kelas
perusahaannya. Kendati demikian, ia memberi gambaran, untuk level CEO
rata-rata gajinya ratusan juta rupiah. Akan tetapi, ?Angka ini masih
bersifat relatif. Ada juga CEO yang digaji kurang dari itu,? ungkapnya.
?Semakin bagus dan besar perusahaannya, semakin tinggi pula gaji yang
ditawarkan.?
Ads: artikel tentang lowongan kerja dan bursa kerja terbaru bisa dilihat pada klikkarir.com
Sementara itu, benefit yang diperoleh di bawah level CEO biasanya tidak
jauh berbeda. Sebagai contoh, gaji seorang manajer menengah Rp 20-30
juta. Namun, yang lebih tinggi atau lebih kecil dari nilai itu juga ada.
Untuk perusahaan kecil, Jody mencontohkan, gaji manajer menengah hanya
sekitar Rp 8 juta.
Oleh : Firdanianty
swa.co.id
Label: migas
0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda